Universitas Muhammadiyah Sukabumi
  • Faperta Gelar Diskusi Publik : Kabupaten Sukabumi Harus Punya Ikon Hortikultura

Faperta Gelar Diskusi Publik : Kabupaten Sukabumi Harus Punya Ikon Hortikultura

  • Administrator
  • 25 Apr 2019
  • Berita Terbaru

SUKABUMI, RADARSUKABUMI,com– Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sukabumi (BEM Faperta Ummi) menyelenggarakan diskusi publik di Auditorium Ummi, Selasa (23/4).

Diskusi yang bertemakan “Menggali Potensi Sukabumi untuk Tumbuh Kembang Wirausaha Muda Bidang Pertanian” ini mendatangkan beberapa narasumber seperti Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Kepala Dinas DKP Kabupaten Sukabumi, Kadis Perindustrian dan ESDM Kabupaten Sukabumi, Owner Sukaponic Farm Fariz Nugraha sekaligus alumni Fakultas Pertanian Ummi, Owner Bolu Amor Ridwan, OISCA M Halid dan Bupati Sukabumi sebagai keynot speaker.

Ketua BEM Fakultas Pertanian Ummi Bayu Maulana Firdaus menyoroti permasalahan hortikultura dan pertanian yang ada di Kabupaten Sukabumi.

Permasalahan tersebut juga dibahas dalam diskusi publik tersebut.

Menurutnya, Kabupaten Sukabumi yang memiliki wilayah terluas se-Jawa dan Bali ini juga dikenal dengan berbagai bidang pertaniannya.

Untuk itu, pihaknya medesak agar Kabupaten Sukabumi bisa memiliki ikon hortikultura di masing-masing wilayah.

“Intinya target dari diskusi ini kita mengharapkan solusi untuk bisa memiliki ikon di bidang pertanian dari masing-masing wilayah, karena tujuan dari diskusi ini kita memiliki program One Product One Village, karena memang dilihat dari potensi pertanian Sukabumi itu banyak, hanya saja kurang begitu dikenal, makanya dengan diskusi ini bisa memunculkan ikon di bidang pertanian ataupun hortikultura yang ada dimasing-masing desa,” ungkapnya.

Bayu menyebut, dengan munculnya ikon hortikultura di masing-masing wilayah di Kabupaten Sukabumi ini bisa memajukan produk-produk pertanian yang ada di Kabupaten Sukabumi.

Untuk itu penting adanya dorongan dari pemerintah khusausnya di dinas-dinas yang berkaitan.

“Tentunya setelah diselenggarakannya diskusi ini diharapkan adanya keterbukaan terhadap dunia pertanian yang dewasa ini semakin dilirik masyarakat, sebagai acuan terhadap konsumsi pangan Indonesia yang banyak menggunakan produk impor dari luar negeri,” tandasnya.