
Tim Akademisi UMMI Ungkap Akses Ekonomi Jadi Kunci Ketahanan Pangan Desa
Sukabumi, www.ummi.ac.id — Tim akademisi Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) mengungkap bahwa ketahanan pangan di wilayah pedesaan tidak semata ditentukan oleh tingginya produksi pertanian, tetapi lebih dipengaruhi oleh akses ekonomi masyarakat. Temuan ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa Mekar Tanjung, Kabupaten Sukabumi, dengan dukungan Diktilitbang PP Muhammadiyah.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa modal finansial atau kemampuan ekonomi rumah tangga menjadi faktor paling dominan dalam menentukan ketahanan pangan. Masyarakat dengan pendapatan dan akses keuangan yang baik terbukti lebih mampu memenuhi kebutuhan pangan dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan sumber daya alam tanpa dukungan ekonomi yang memadai.
Sebanyak sekitar 100 rumah tangga dilibatkan sebagai responden yang dipilih secara acak. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2026 sebagai bagian dari kontribusi UMMI dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya tujuan kedua, yaitu Zero Hunger (Tanpa Kelaparan).
Tim peneliti UMMI menjelaskan bahwa studi ini berangkat dari adanya kesenjangan antara potensi sumber daya alam yang melimpah dengan kondisi kesejahteraan masyarakat yang masih relatif rendah. “Meskipun produksi pertanian cukup tinggi, masih terdapat rumah tangga yang belum sepenuhnya mencapai ketahanan pangan. Ini menunjukkan bahwa ketersediaan pangan saja tidak cukup tanpa dukungan akses ekonomi,” ungkap tim peneliti.
Dalam pelaksanaannya, penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui survei, wawancara, serta observasi lapangan. Analisis data menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) guna mengidentifikasi hubungan antar faktor yang memengaruhi ketahanan pangan.
Hasil penelitian menegaskan bahwa ketahanan pangan di pedesaan lebih bersifat berbasis akses (access-based) dibandingkan berbasis produksi (production-based). Temuan ini sejalan dengan teori entitlement yang menekankan bahwa kemampuan ekonomi menentukan akses masyarakat terhadap pangan.
Tim peneliti UMMI menilai bahwa upaya peningkatan ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga perlu diiringi dengan peningkatan pendapatan masyarakat, akses terhadap pembiayaan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Melalui penelitian ini, UMMI berharap hasilnya dapat menjadi rujukan bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi pembangunan yang lebih berkelanjutan. Ketahanan pangan yang kuat, menurut tim peneliti UMMI, hanya dapat terwujud jika masyarakat tidak hanya memiliki sumber daya, tetapi juga kemampuan ekonomi untuk mengaksesnya.



