
PGSD UMMI Peringati Hari Kartini
Sukabumi, ummi.ac.id – Dalam rangka memperingati hari kartini, seluruh mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) beserta Dosen PGSD mengadakan kegiatan dilingkungan kampus, Dalam kegiatan ini mahasiswa PGSD mengenakan pakaian adat namun tetap syar’i. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta Mahasiswa PGSD khususnya, umum nya seluruh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) kepada sosok Pahlawan.
Kegiatan ini diawali dengan apel pagi yang dipimpin oleh bapak Rahmat Widianto, M.Pd. Dalam apel ini beliau mengatakan “R.A Kartini merupakan sosok pahlawan perempuan bagaimana ia memperjuankan emansipasi perempuan, namaun ada hal yang harus kita ketahui sebagai mahasiswa dan calon lulusan universitas yang berbasiskan Al-Islam, yang harus kita pahami emansipasi wanita yang diatur dalam islam adalah lebih menekankan pada perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri yang sesuai dengan hak-hak yang telah diatur dalam Al-Qu’an dan Hadits dengan tetap menyelaraskannya dengan fungsi dan kewajibannya sebagai wanita, tidak berlebihan atau ada batasnya, dan tidak melanggar syar’i. Islam menegaskan bahwa emansipasi wanita adalah bukan pembebasan diri, melainkan pemuliaan diri kaum wanita, baik di mata Allah, suami, anak, orang tua, saudara, keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara”.
Setelah kegiatan apel selesai, acara dilanjutkan dengan kegiatan pemilihan Kartini dan Kartono PGSD, yang di ikuti oleh 12 peserta PGSD dari semester 2 dan 4, adapun yang menjadi juri dalam kegiatan ini dari dosen PGSD sendiri, Ibu Dyah Lyesmaya, S.S., M.Pd. dan Ibu Iis Nurasiah M.Pd. Perlombaan ini tidak hanya berlenggak lenggok didepan saja, tapi di sertai dengan berbagai pertanyaan kepada setiap peserta, dan yang terpilih sebagai Kartini dan Kartono PGSD Periode 2016-2017 di Raih oleh Pasangan Wisnu Jaya dan Migha Furi.
Semoga dengan adanya kegiatan ini mahasiswa UMMI bisa lebih menumbuhkan Rasa cinta pada Tanah Air, dan lebih membuka kembali pemahaman mengenai emansipasi perempuan. Yang bagaimanapun tidak hanya dilihat dari aspek penuntutan hak saja, tetapi juga harus dilihat dari pemenuhan kewajiban. Perkembangan zaman mendengungkan emansipasi sebagai penuntutan hak-hak saja tetapi mengesampingkan kewajiban yang menjadi konsekuensi dari hak-hak tersebut. wanita diperbolehkan berkarier, tetapi juga harus memenuhi kewajibannya seperti tetap memakai hijabnya dalam bekerja dan mengetahui posisinya di berbagai peran lainnya, yakni sebagai istri dan sebagai ibu.
Dengan demikian, makna emansipasi menurut perspektif hukum islam tidak hanya menjabarkan mengenai penuntutan hak saja akan tetapi juga menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban merupakan konsekuensi dari hak yang bertujuan untuk memuliakan wanita itu sendiri.
“Dan orang laki -laki tidaklah sama seperti orang perempuan”. (QS. Al imron: 36)



