
Meneguhkan Praxis Politik dan Intelektual Organik: PK IMM Ki Bagus Hadikusumo Sukses Gelar Madrasah Siyasah Profetik
Sukabumi, www.ummi.ac.id — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Ki Bagus Hadikusumo Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), sukses menyelenggarakan Madrasah Siyasah Profetik (MSP) pada Jumat hingga Sabtu, 1–2 Mei 2026. Berpusat di Auditorium UMMI dan Villa Citra Sukabumi, kegiatan pengkaderan lanjutan ini mengusung tema “Dialektika Kader IMM: Mengasah Jiwa Organisasi, Menanamkan Nalar Politik Berbasis Nilai Profetik”.
Kegiatan ini diikuti oleh kader dari berbagai komisariat di lingkungan UMMI, yakni Fakultas Kesehatan (FKES), Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian (Faperta), dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Acara ini menjadi kawah candradimuka bagi kader untuk mengasah ketajaman analisis sosial dan kecakapan merespons kebijakan publik.
Penyelenggaraan MSP dilatarbelakangi oleh pembacaan kritis terhadap realitas demokrasi bangsa yang kian mengalami krisis akibat hegemoni oligarki elektoral. Merespons hal tersebut, MSP memfasilitasi dialektika intensif bersama lima narasumber pakar dan aktivis untuk merumuskan ulang arah gerak mahasiswa.
Sebagai pijakan filosofis, Pemateri 1, Dr. Yana Fajar FY Basori M.S.I. (Sekretaris PDM Kota Sukabumi), membedah materi Siyasah Profetik: Konsep dan Landasan Gerakan. Ia menegaskan bahwa kader IMM wajib menjadikan nilai kenabian sebagai "kompas moral". Hal ini dibumikan melalui konsep Ilmu Sosial Profetik gagasan Kuntowijoyo yang berpijak pada tiga pilar: Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi.

Pisau analisis ini kemudian dipertajam oleh Pemateri 2, Muhammad Fajri Nur Rizky, melalui materi Analisis Sosial sebagai Basis Nalar Politik. Kader dilatih untuk membaca akar permasalahan masyarakat secara struktural, kultural, dan moral, bukan sekadar terjebak pada fenomena di permukaan.
Peran historis kaum terpelajar dibedah secara mendalam oleh Pemateri 5, Harris Aufa Narodnaya Elnawam (Aktivis), dalam sesi Dialektika Gerakan Mahasiswa dan Politik Kebangsaan. Berdasarkan paparannya, kaum terpelajar memiliki misi sejarah untuk mengawal peradaban demi mencapai tatanan masyarakat yang ideal dan sejahtera secara mutlak (Eudaimonia) pada tataran makro, meso, dan mikro.
Harris menegaskan bahwa kader IMM tidak boleh hanya menjadi intelektual tradisional yang berjarak dengan realitas. Merujuk pada pemikiran Antonio Gramsci, kader harus bertransformasi menjadi Intelektual Organik yang menyadarkan dan mendorong gerakan akar rumput. Lebih jauh, kader harus berpihak pada kaum Subaltern (meminjam konsep Gayatri Spivak)—yakni kelas proletar, buruh, dan masyarakat tak berdaya—agar mereka memiliki daya tawar (bargaining power) di hadapan hegemoni kelas borjuis. Seluruh gerak ini dilandasi oleh semangat Risalah Islam Berkemajuan melalui Teologi Al-Ma'un dan Al-Ashr.
Gagasan besar tersebut kemudian diterjemahkan menjadi taktik pergerakan oleh Pemateri 4, Chikal Akmalul Fauzi S.Sos. (Ketua Umum PC IMM Depok). Ia merumuskan pedoman aksi sosial politik kader yang bertumpu pada empat pilar: Berpikir, Berpihak, Bergerak, dan Berakhlak.
"Aktivis biasa bergerak karena emosi dan reaksi. Namun, kader IMM harus bergerak karena kesadaran ideologis dan keberpihakan kemanusiaan. Dari gerakan reaktif, kita harus menuju transformatif," tegas Chikal.
Di ranah manajerial, Pemateri 3, Dr. Agus Rasyid Chandra Wijaya S.H., M.H. (Anggota Bawaslu Kab. Bandung Barat), melalui materi Kepemimpinan Profetik dan Manajemen Organisasi, menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah sebatas pencitraan. Pemimpin profetik harus mampu menghidupkan makna organisasi melalui aktualisasi karakter Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah serta menjadi penyelesai masalah (problem solver) di tengah masyarakat.
Ketua Pelaksana MSP, Mahesa Raihan Putra, menegaskan bahwa intelektualitas yang dibangun di MSP harus bermuara pada aksi konkret. “Jadilah ikan kecil yang siap mengarungi samudra yang luas, bukan menjadi ikan besar yang cuma berenang di kolam yang sempit. Melalui MSP, kami menyiapkan mental dan nalar kader untuk diaspora di berbagai sektor strategis pada masa mendatang," ungkapnya.
Rangkaian Madrasah Siyasah Profetik ditutup dengan refleksi ideologis untuk membumikan Trilogi IMM: Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. Memegang prinsip luhur "Berpikir sebelum bergerak, dan bergerak setelah berpikir", kader IMM Ki Bagus Hadikusumo kini siap turun ke masyarakat sebagai subjek perubahan yang membawa fajar keadilan sosial.



