
Potensi Pengembangan Minyak Atsiri Kapulaga Indonesia sebagai Diversifikasi Ekspor Kabupaten Sukabumi oleh Tim Pengabdian Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Oleh: Lela Lailatul Khumaisah
(Dosen Kimia UMMI)
Sukabumi merupakan kabupaten terbesar di wilayah Provinsi Jawa Barat, dengan luas 4.128 km2 atau 14,39% dari luas Provinsi Jawa Barat sesuai data dari . Dalam struktur perekonomian Kabupaten Sukabumi, sektor pertanian masih merupakan sektor yang paling dominan. Selain itu sektor ini masih menyerap jumlah tenaga kerja yang besar pula (Situs resmi Kabupaten Sukabumi, 2014). Desa Mekarsari kecamatan Nyalindung merupakan salah satu desa yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian di sektor pertanian. Hasil pertanian yang paling melimpah diantaranya padi, berbagai jenis sayuran, dan kapulaga.
Saat ini, perkembangan minyak atsiri di dunia semakin pesat dikarenakan manfaatnya yang sangat beragam, diantaranya sebagai bahan parfum, kosmetik, obat, dan aromaterapi. Minyak atsiri (essential oil atau volatile oil) merupakan minyak yang mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent taste), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air (Guenther, 1987). Minyak atsiri dihasilkan dari ekstrak tanaman, baik bagian akar, kayu, batang, biji, buah, daun, ataupun bunga.
Ada 2 jenis tanaman kapulaga, yang dikenal dengan kapulaga lokal (Amomurn cardamomum) dan kapulaga sabrang (Elletaria cardamomum). Kapulaga lokal dapat hidup pada ketinggian 200 – 1000 meter di atas permukaan laut, dan kapulaga sabrang pada 750 – 1500 meter. Namun kapulaga lokal khususnya menghendaki ketinggian optimum antara 300 – 500 meter di atas permukaan laut, karena pada ketinggian ini kapulaga dapat menghasilkan buah yang baik. Ketinggian tempat berkaitan erat dengan kondisi suhu udara setempat. Kapulaga memerlukan suhu 10 – 350C dengan udara yang sedikit lembab. Apabila di daerah yang curah hujannya sedikit atau musim kemaraunya berkepanjangan, tanaman kapulaga menjadi kurang berproduktif. Kapulaga adalah jenis tanaman rempah (Gambar 1) yang banyak mengandung minyak atsiri dan termasuk ke dalam famili Zingiberaceae yang awalnya merupakan tanaman hutan (Prasasty, I., dkk., 2003). Tanaman asli Indonesia ini merupakan salah satu penghasil minyak atsiri yang masih belum banyak dikembangkan secara komersial oleh masyarakat dan menurut Dewan Atsiri Indonesia, tanaman ini berpotensi dikembangkan di masa mendatang (Ma’mun, 2006).

Gambar 1. Tanaman kapulaga.
Kapulaga sebagai komoditi ekspor diperdagangkan dalam bentuk buah kering (Gambar 2) dan minyak atsiri. lndonesia mengekspor buah keringnya ke Singapura, Hongkong, Jepang, Timur Tengah dan Amerika. Adapun minyak atsiri kapulaga belum secara luas dikenal dan diproduksi di Indonesia serta belum pernah diekspor sampai saat ini. Oleh karena itu, kami dari Program Studi Kimia (Lela Lailatul Khumaisah, M.Si) dan Hubungan Masyarakat (Aris Juliansyah, M.I.Kom) Universitas Muhammadiyah Sukabumi sebagai wujud dari Catur Dharma Perguruan Tinggi melakukan kegiatan pengabdian yang didanai oleh Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia tahun 2017 mengenai Iptek bagi Masyarakat Minyak Atsiri Kapulaga di Kabupaten Sukabumi sebagai diversifikasi produk ekspor di masa mendatang.

Gambar 2. Bagian tanaman kapulaga.
Para petani yang masuk ke dalam kelompok mitra kami (Gambar 3) di Desa Mekarsari Kecamatan Nyalindung yang diketuai oleh Bapak Juanda dan Cici Suardi mempunyai peluang untuk mengembangkan budidaya kapulaga yang selama ini mereka hanya menjual hasil pertaniannya tersebut dalam bentuk buah kering menjadi minyak atsiri (cardamon oil) yang memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi. Jumlah produksi dari sekitar 700 pohon kapulaga menghasilkan 2-3 kuintal buah dengan harga jual berkisar Rp 6.000,00 – Rp 10.000,00 per kg, sedangkan minyak atsiri kapulaga (cardamon oil) dipatok seharga US 175 atau sekitar Rp 2.300.000,00. Oleh karena itu, pengolahan lebih lanjut bahan mentah untuk menghasilkan minyak atsiri yang harganya jauh lebih mahal perlu dilakukan. Metode yang digunakan untuk menghasilkan cardomon oil adalah dengan cara melakukan proses penyulingan secara water-steam distillation (sistem kukus), dilanjutkan dengan pengujian kualitas minyak yang dihasilkan melalui uji Standar Nasional Indonesia (SNI) dan analisis komponen dengan menggunakan spektrometri GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry).

Gambar 3. Kelompok tani mitra dan tim pengabdian dosen UMMI.
Kegiatan pengabdian ini dilakukan secara terencana agar terus berkesinambungan di masa mendatang. Beberapa hal yang telah dilakukan adalah mengadakan pendampingan dan sosialisasi program kepada masyarakat sekitar (Gambar 4), aparat pemerintahan setempat, dan masyarakat luas. Ketiga hal tersebut dilakukan dengan cara pendekatan yang berbeda-beda. Pendampingan dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tempat pengabdian dimana letak mitra kami berada dilakukan dengan cara mengadakan beberapa penyuluhan terkait program secara rinci, proses pembudidayaan kapulaga dan cara produksi minyak kapulaga.
Gambar 4. Penyuluhan kepada mitra dan warga sekitar.
Selain itu, pengadaan alat penyulingan minyak kapulaga telah dilakukan oleh kami melalui program Iptek bagi Masyarakat (IbM) ini yang didanai oleh Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Masyarakat (DPRPM) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Gambar 5. Serah terima alat penyulingan dari tim pengabdian dosen UMMI ke mitra melalui kepala desa Mekarsari.
Potensi pengembangan minyak atsiri kapulaga begitu menjanjikan, mengingat manfaat dari cardamon oil sangat beragam, diantaranya sebagai antioksidan (Winarsi, H., 2014); pengenceran dahak (ekspektoran), memperlancar pengeluaran gas dari perut (karminatif), penambah aroma, obat encok, mulas, dan demam (Mursito, 2004); menghangatkan, membersihkan darah, antitusif dan analgetik. Kapulaga memiliki aroma sedap sehingga orang Inggris menyanjungnya sebagai grains of paradise. Aroma sedap ini berasal dari kandungan minyak atsiri pada kapulaga. Minyak atsiri kapulaga mengandung komponen utama sineol, borneol, terpineol, terpenil asetat, α-pinen, dan β-pinen, selebihnya berupa monoterpen teroksigenasi, hidrokarbon monoterpen, dan sesquiterpen (Sumangat, D. dan Edy Mulyono, tanpa tahun; Trubus, 2009). Dalam bentuk minyak ini pula, kapulaga dipakai untuk menyedapkan soft drink dan es krim di pabrik Amerika (Market Brief, 2011).
Adanya produk minyak kapulaga ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis buah kapulaga yang akan berdampak pada peningkatan pendapatan para petani serta harapannya akan menjadi salah satu komoditas ekspor Kabupaten Sukabumi di masa mendatang.




